Rabu, 12 November 2014

COSO adalah :)


Konsep Internal Control yang dikembangkan oleh American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) dinilai sudah tidak applicable lagi pada awal tahun 80-an, karena itu pada tahun 1992, The Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission (COSO) memberikan suatu pandangan baru tentang internal control yang lebih luas dan terintegrasi serta sesuai dengan perkembangan dunia usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan. Konsep COSO memiliki pandangan yang lebih luas yaitu dengan melakukan pengendalian atas perilaku seluruh komponen organisasi.
COSO menyatakan definisi internal control:
Internal control is broadly defined as a process, affected by an entity’s board of directors, management and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories:
·         Efektifitas dan efisiensi operasional
·         Reabilitas pelaporan keuangan
·         Kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku
Internal control bukan hanya meliputi komponen-komponen organisasi yang bersifat statis, tetapi meliputi juga hal-hal yang bersifat dinamis. Tidak hanya terkonsentrasi pada penyusunan laporan keuangan saja, namun meliputi juga pencapaian tujuan organisasi. Tidak hanya memperhatikan tingkatan managerial dan operasional organisasi, namun juga meliputi tingkatan strategis pada organisasi.
Internal control memiliki lima komponen yang berhubungan erat satu sama lain. Larry F. Konrath (1999) menggambarkan kelima komponen tersebut bagaikan sebuah bangunan rumah dimana Lingkungan Pengendalian menjadi pondasinya. Penilaian risiko, aktivitas pengendalian dan informasi dan komunikasi menjadi pilar-pilarnya. Sedangkan monitoring menjadi atapnya. Dengan demikian, sebuah internal control akan berjalan secara efektif jika kelima unsur tersebut terbangun dengan baik dan beroperasi sesuai proporsinya masing-masing. Walaupun komponen-komponen tersebut dapat diterapkan kepada semua entitas, perusahaan yang kecil dan menengah dapat menerapkannta berbeda dengan perusahaan besar. Dalam hal ini pengendalian dapat tidak terlalu formal dan tidak terlalu terstruktur, namun pengendalian internal tetap dapat berjalan dengan efektif.
1.       Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian menciptakan sarana pengendalian dalam suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran personel organisasi tentang pengendalian. Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu entitas antara lain:
a.       Integritas dan nilai etika
Efektivitas pengendalian intern bersumber dari dalam diri orang yang mendesain dan melaksanakannya. Pengendalian intern yang memadai desainnya, namun dijalankan oleh orang-orang yang tidak menjunjung tinggi integritas dan tidak memiliki etika akan mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan pengendalian intern. Oleh karena itu, tanggung jawab managemen adalah menjunjung tinggi nilai integritas.
b.      Komitmen terhadap kompetensi
Untuk mencapai tujuan entitas, personel di setiap tingkat organisasi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlakukan untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan managemen atas pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, dan paduan antara kecerdasan, pelatihan dan pengalaman yang dituntut dalam pengembangan kompetensi.
c.       Dewan komisaris dan komite audit
Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas, jika penunjukkan auditor dilakukan oleh manajemen puncak, kebebasan auditor akan dapat berkurang dipandang dari sudut pemegang saham. Hal ini karena managemen puncak adalah pihak yang seharusnya dinilai kejujuran pertanggungjawaban keuangannya oleh auditor, padahal managemen puncak menentukan pemilihan auditor yang ditugasi dalam audit atas laporan keuangan oleh managemen puncak. Dewan komisaris adalah wakil pemegang saham dalam perusahaan berbadan hukum perseroan terbatas. Dewan ini berfungsi mengawasi pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen (direksi). Dengan demikian, dewan komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah konsentrasi pengendalian yang terlalu banyak di tangan managemen (direksi).
d.      Filosofi dan gaya operasi manajemen
Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar (basic beliefs) yang menjadi parameter bagi perusahaan dan karyawannya. Dalam berbisnis, manajemen yang memiliki filosofi akan meletakkan kejujuran sebagai dasar bisnisnya. Laporan keuangan perusahaan ini akan digunakan sebagai alat managemen untuk mencerminkan kejujuran pertanggungjawaban keuangan perusahaan kepada siapa saja yang berhubungan dengan bisnis mereka.
Gaya operasi mencerminkan ide manager tentang bagaimana operasi entitas harus dilaksanakan. Ada manager yang memilih gaya operasi yang sangat menekankan pentingnya laporan keuangan, penyusunan dan penggunaan anggaran sebagai alat pengukur kinerja manager, dan pencapaian tujuan yang dicanangkan dalam anggaran. Ada pula manager puncak perusahaan yang memilih gaya operasi yang lebih condong pada pemusatan kekuasaan di tangan beberapa manager puncak; ada manager yang memilih gaya operasi yang condong pada desentralisasi kekuasaan ke tangan managemen menengah kebawah. Managemen dengan gaya operasi sentralisasi memerlukan alat control yang cenderung berbiaya tinggi.
e.      Struktur organisasi
Orang bergabung dalam suatu organisasi dengan maksud utama untuk mencapai tujuan yang tidak dapat dicapainya dengan kemampuan yang dimilikinya sendiri. Struktur memberikan kerangka untuk perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemantauan aktifitas entitas. Pengemvangan struktur organisasi suatu entitas mencakup pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab di dalam suatu organisasi dalam tujuan organisasi.


f.        Pembagian wewenang
Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab merupakan perluasan lebih lanjut pengembangan struktur organisasi. Dengan pembagian wewenang yang jelas, organisasi akan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan organisasi. Jika kepada seorang nanajer dibebankan wewenang yang terlalu banyak, hal ini akan berakibat timbulnya iklim yang mendorong ketidak beresan dalam pelaksanaan wewenang tersebut.
g.       Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Karyawan merupakan unsur penting dalam setiap pengendalian intern. Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, unsure pengendalian intern yang lain dapat dikurangi sampai batas minimum, dan perusahaan tetap mampu menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang dapat diandalkan. Pengendalian intern yang baik tidak akan dapat menghasilkan informasi keuangan yang andal jika dilaksanakan oleh karyawan yang tidak kompeten dan tidak jujur.
2.       Penaksiran Resiko
Penaksiran resiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi, analisis dan pengolahan resiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi di Indonesia. Penaksiran resiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah penaksiran resiko yang terkandung dalam asersi tertentu dalam laporan keuangan dan desain serta implementasi aktifitas pengendalian yang ditujukan untuk mengurangi risiko tersebut pada tingkat minimum dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat.
3.       Informasi dan Komunikasi
Sistem akuntansi diciptakan untuk mengidentifikasi, merakit, menggolongkan, menganalisis, mencatat, dan melaporkan transaksi suatu kesatuan usaha serta menyelenggarakan pertanggungjawaban kekayaan dan utang kesatuan usaha tersebut. Sistem akuntansi yang efektif dapat memberikan keyakinan yang memadai bahwa transaksi telah dicatat atau terjadi adalah (Mulyadi):
a.       Sah
b.      Telah diotorisasi
c.       Telah dicatat
d.      Telah dinilai wajar
e.      Telah digolongkan secara wajar
f.        Telah dicatat dalam periode yang seharusnya
g.       Telah dimasukkan ke dalam buku pembantu dan telah diringkas dengan benar
Komunikasi mencakup penyampaian informasi kepada semua personel yang terlibat dalam pelaporan keuangan tentang bagaimana aktifitas mereka berkaitan dengan pekerjaan orang lain baik berada di dalam maupun diluar organisasi.
4.       Aktifitas Pengendalian
Aktifitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberikan keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh manajemen dilaksanakan. Kebijakan dan prosedur ini memberikan keyakinan bahwa tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk mengurangi resiko dalam pencapaian tujuan satuan usaha. Aktifitas pengendalian yang relevan dengan pemeriksaan atas laporan keuangan dapat digolongkan kedalam berbagai kelompok:
a.       Pengendalian pengolahan informasi
a.       Pengendalian pengolahan informasi
                                                                                       i.      Pengendalian umum
                                                                                     ii.      Pengendalian aplikasi
1.       Otorisasi memadai
2.       Perencanaan dan penggunaan dokumen yang memadai
3.       Pengecekan secara independen
b.      Pemisahan fungsi yang memadai
c.       Pengendalian fisik atas kekayaan dan catatan
d.      Review atas kinerja
5.       Pemantauan
Pemantauan atas proses penilaian efektifitas rancangan dan operasional struktur pengendalian internal secara periodik dan terus menerus yang dilakukan oleh fungsi internal auditing adalah untuk melihat apakah telah dilaksanakan semestinya dan telah diperbaiki sesuai dengan keadaan. Informasi untuk penilaian dan perbaikan dapat berasal dari berbagai sumber meliputi studi atas struktur pengendalian internal, laporan pemeriksaan internal, laporan penyimpangan atas aktifitas pengendalian, laporan dari bank sentral, umpan balik pegawai, dan keluhan dari pelanggan.
Di tahun 2004, COSO mengeluarkan report “Enterprise Risk Management Integrated Framework” sebagai pengembangan COSO framework diatas. Dijelaskan komponen dalam Enterprise Risk Management, yaitu:
·         Risk Assessment
·         Control Activities
·         Monitoring
·         Internal Environment
·         Risk Response
·         Information and Communication
·         Event Identification
·         Objective Setting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar